Sejak kecil saya suka sekali makan ayam, dimasak apapun saya suka, yang penting dimasak, tidak mentah atau setengah matang. Daging ayam tidak memiliki bau khas daging seperti yang dimiliki daging sapi atau daging kambing dan domba. Belakangan saya belajar bahwa bau khas setiap hewan didapat dari lemaknya, dan ayam hanya memiliki sedikit lemak sehingga membuat dagingnya relatif tidak memiliki bau.
Daging ayam mentah sangat kaya akan kandungan asam amino niasin, mineral selenium dan vitamin B6, selain juga kaya akan asam amino asam pantotenat dan fosfor. Jika belum dimasak, daging ayam mengandung 114 Kalori, 21,2 gram protein dan 2,5 gram lemak. Jika digoreng, daging ayam goreng akan memiliki 307 Kalori yang didapat dari peningkatan kandungan lemak menjadi 12,77 gram dan protein menjadi 42,8 gram. Satu-satunya nilai negatif daging ayam adalah karena memiliki kandungan kolesterol yang tinggi, walaupun tidak separah daging sapi, kambing, domba atau babi.
Menurut data terbaru, rata-rata konsumsi daging ayam Indonesia adalah 11,5 gram per orang per hari. Belum banyak memang, apalagi protein hewani asal unggas menyumbang 65% asupan protein asal hewan manusia Indonesia, sehingga secara keseluruhan asupan protein hewani manusia Indonesia masih sangat sedikit.
Kelebihan lain dari daging ayam dan telur adalah tidak adanya kepercayaan yang melarang umatnya untuk makan daging atau telur ayam, sehingga daging dan telur ayam tidak memiliki keterbatasan penyebaran seperti babi di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim atau sapi di negara-negara berpenduduk mayoritas Hindu. Selain itu, produk pangan asal ayam mempunyai harga yang relatif terjangkau karena dapat dibagi-bagi lagi dalam satuan yang lebih kecil. Jika terpaksa, misalnya, ibu rumah tangga bisa hanya membeli separuh ayam saja, atau seperempat kilogram telur saja. Dengan harga yang memang sudah murah, pengurangan ukuran seperti itu akan membuat daging dan telur ayam semakin terjangkau masyarakat.
Satu hal yang memprihatinkan tetapi sering terdengar, bahkan dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dalam bidang kesehatan atau ilmu alam, bahwa ayam dapat tumbuh dengan cepat dalam waktu pendek dan ayam petelur dapat menghasilkan banyak telur (sampai 300 butir/ekor) selama hidupnya karena mereka disuntik hormon.
Sebagai orang yang memiliki latar belakang dalam bidang kesehatan hewan dan seumur hidup berprofesi sebagai dokter hewan unggas, saya geli-geli sebal mendengarnya. Geli karena tahu bahwa memberi hormon pada ayam ras komersial sama seperti membuang garam ke laut, tak ada pengaruhnya. Sebal karena melihat bahwa mereka yang bicara itu, dengan sedikit berpikir saja seharusnya sudah dapat mengerti bahwa hal tersebut tidak diperlukan. Saya beranggapan bahwa mereka berpikir seperti itu hanya karena kekurangan informasi saja. Jadi apa sebenarnya yang membuat ayam pedaging bisa tumbuh besar dengan cepat?
Ayam tidak perlu tambahan hormon
Kehebatan ayam ras komersial untuk berproduksi memang sangat mencengangkan bahkan bagi mereka yang sehari-hari berkecimpung dalam dunia peternakan. Waktu saya baru lulus dokter hewan sekitar tahun 1993, untuk mencapai berat 1,2 kg seekor ayam broiler membutuhkan waktu 35 hari. Saat ini, tahun 2015, untuk mencapai ukuran itu hanya diperlukan waktu kurang lebih 24 hari. Dalam jangka waktu 22 tahun, ayam broiler tumbuh lebih efisien 11 hari, itu sama dengan efisiensi 12 jam setiap tahunnya. Mencengangkan, dan pasti membuat orang-orang yang kurang informasi dan skeptis berpikir bahwa pasti ini ada apa-apanya..
Para ahli pemuliaan genetik industri perunggasan telah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk menghasilkan ayam-ayam terpilih yang memiliki kemampuan produksi tinggi dan efisien dalam menggunakan pakan. Sampai saat ini sudah ada lebih dari 220 jenis ayam yang semuanya dikembangkan untuk memenuhi permintaan konsumen yang berbeda untuk setiap daerah di dunia. Jadi tanpa menggunakan hormon, teknik pemuliaan genetik telah memberi kita begitu banyak pilihan jenis ayam untuk digunakan. Hal ini dimungkinkan juga karena umur hidup ayam yang pendek dan fertilitasnya yang tinggi, sehingga pemuliaan genetik yang dilakukan tidak memerlukan waktu terlalu lama seperti pada sapi, misalnya. Selain itu, teknologi pembuatan pakan ayam sudah sedemikian majunya hingga para pembuat pakan ayam tidak hanya menghitung kandungan protein dalam pakan yang mereka buat, tapi malah sudah berpikir mengenai keseimbangan asam amino di dalamnya.
Residu antibiotika
Keberadaan residu antibiotika disinyalir telah menghasilkan jenis-jenis bakteria yang tahan terhadap antibiotika, sehingga jika manusia diserang oleh bakteri-bakteri seperti ini, maka pengobatannya akan menjadi sangat susah dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini membuat masyarakat takut untuk makan ayam adalah karena disinyalir di dalam produk asal unggas terdapat residu antibiotika. Ayam memang sering diberi antibiotika untuk keperluan pencegahan di awal masa pemeliharaaan, bukan untuk keperluan pengobatan, sehingga kecil kemungkinan ayam mengandung residu antibiotika. Pemerintah RI dalam beberapa tahun terakhir juga telah mengkampanyekan produk "Ayam ASUH" pada masyarakat, yaitu ayam yang diproduksi dan diolah sedemikian rupa sehingga Aman, Sehat, Utuh dan Halal. Selain itu Pemerintah juga melakukan sertifikasi pada tempat-tempat pengolahan ayam dan produk asal ayam di mana mereka yang tempat usahanya telah diperiksa dan lolos ujian sertifikasi akan mendapat NKV (Nomer Kontrol Veteriner). Jadi pastikan untuk selalu berbelanja ayam dan produk asal ayam di tempat-tempat yang sudah memiliki NKV.
Residu antibiotika
Keberadaan residu antibiotika disinyalir telah menghasilkan jenis-jenis bakteria yang tahan terhadap antibiotika, sehingga jika manusia diserang oleh bakteri-bakteri seperti ini, maka pengobatannya akan menjadi sangat susah dan dapat menyebabkan kematian. Hal ini membuat masyarakat takut untuk makan ayam adalah karena disinyalir di dalam produk asal unggas terdapat residu antibiotika. Ayam memang sering diberi antibiotika untuk keperluan pencegahan di awal masa pemeliharaaan, bukan untuk keperluan pengobatan, sehingga kecil kemungkinan ayam mengandung residu antibiotika. Pemerintah RI dalam beberapa tahun terakhir juga telah mengkampanyekan produk "Ayam ASUH" pada masyarakat, yaitu ayam yang diproduksi dan diolah sedemikian rupa sehingga Aman, Sehat, Utuh dan Halal. Selain itu Pemerintah juga melakukan sertifikasi pada tempat-tempat pengolahan ayam dan produk asal ayam di mana mereka yang tempat usahanya telah diperiksa dan lolos ujian sertifikasi akan mendapat NKV (Nomer Kontrol Veteriner). Jadi pastikan untuk selalu berbelanja ayam dan produk asal ayam di tempat-tempat yang sudah memiliki NKV.
Semoga Anda tidak takut lagi untuk mengkonsumsi produk makanan asal ayam, karena produk-produk tersebut turut membangun kecerdasan bangsa Indonesia melalui asupan protein baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar